Bisa jadi, keputusan saya dan suami adalah kontroversial, yaitu mengajak anak kami sejak usia 2.5 tahun
naik gunung, bahkan ketika di musim hujan. Sebagian yang tidak mengenal
kami secara dekat mencibir dan mengatakan kami egois, sebagian lagi
salut dan mendukung. Lepas dari kontroversi setuju dan tidak setuju,
biarlah saya memaparkan alasan saya mendaki gunung (plus kenapa saya
repot repot mengajak anak saya turut serta).
Mendaki gunung, kerap kali diidentikan dengan kegiatan “heroik” dan
kadang dianggap sebagai kegiatan yang penuh bahaya. Bisa jadi, hal ini
benar adanya, jika dilakukan tanpa pengetahuan yang cukup dan persiapan
yang matang, karena mendaki gunung berarti melibatkan kegiatan fisik
berat di alam yang sulit ditebak kondisinya. Namun, di balik kata
“heroik” dan penuh bahaya, aktivitas mendaki gunung ternyata memiliki
sejumlah manfaat. Dengan pengetahuan yang cukup tentang kegiatan mendaki
gunung, perencanaan dan persiapan yang matang, dan eksekusi yang baik,
kegiatan mendaki gunung bisa menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan
sekaligus menjadi sekolah pendidikan karakater bagi seseorang yang
menjalaninya.
Aktivitas mendaki gunung, pendidikan karakter nomer wahid.
“Now I see the secret of making the best person: it is to grow in the
open air and to eat and sleep with the earth." - Walt Whitman
Seperti kebanyakan kegiatan di alam bebas lainnya, menjalani aktivitas
mendaki gunung bagaikan sedang menjalani kehidupan sejatinya. Aktivitas
mendaki gunung memiliki banyak bahan pengajaran pendidikan karakter yang
pastinya dibutuhkan seseorang jika ingin sukses dan bahagia dalam
hidupnya. Kata “karakter” di sini maksudnya bagaimana seorang seseorang
menampilkan kebiasaan positif dalam menyikapi segala kejadian yang
dihadapinya dalam kehidupan. Kebiasaan positif ini tentunya dapat
dipelajari dan perlu dibangun/dilatih. Melalui kegiatan mendaki gunung,
karakter positif seseorang dapat di bangun.
Mendaki gunung,
bukan kegiatan impulsif karena mengharuskan seseorang melakukan
persiapan yang baik. Seorang yang hendak melakukan aktivitas ini
sebenarnya telah belajar banyak hal positif bahkan sejak persiapan awal
baru dilakukan. Persiapan termasuk di dalamnya menentukan tujuan,
membuat target perjalanan, mencari tahu support system yang ada
(misalnya letak rumah sakit terdekat), mempelajari tips dan penanganan
darurat ketika menghadapi keadaan darurat, ataupun membuat daftar barang
yang dibutuhkan untuk mendaki. Melakukan persiapan perjalanan pendakian
melatih seseorang untuk tidak gegabah dan penuh perhitungan. Dua hal
yang pastinya dibutuhkan dalam menjalani petualangan kehidupan sehari
hari. Dengan melakukan perencanaan, seseorang juga belajar bertanggung
jawab atas aktivitas yang akan dilakukannya.
Rasa cinta pada
alam, tidak bisa tumbuh hanya dengan melihat brosur perjalanan atau
menonton televisi. Soe Hok Gie pernah menuliskan …. “Patriotisme tidak
mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan – slogan Seseorang hanya dapat
mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya Dan mencintai
tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama
rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus
berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat…”.
Dalam perjalanan
mendaki gunung, seseorang disuguhkan pada keindahan dan kemegahan alam
pegunungan. Dengan hadir secara langsung, semua panca indra terlibat
untuk membuktikan alam begitu indah dan kita bertanggung jawab untuk
memeliharanya. Seseorang akan dilatih untuk menjadi seseorang yang penuh
cinta pada lingkungannya, terasah untuk bertanggung jawab pada dunia,
paling tidak pada lingkungan disekitarnya. Tidak membuang sampah
sembarangan atau merusak ekosistem yang ada, menjadi pelajaran yang
paling sederhana namun penting yang bisa didapat melalui aktivitas naik
gunung.
Ketika melakukan pendakian, seseorang dihadapkan pada
banyak tantangan. Medan sudah pasti menanjak, tidak rata, dan pastinya
menguras keringat. Jalur pendakian kerap tidak begitu jelas dan banyak
kali ditemukan persimpangan. Sering kali jurang terbentang di kiri atau
kanan jalan setapak. Rasa dingin yang menggigit dan oksigen yang menipis
kompak membuat napas menjadi lebih berat dan tersengal. Seseorang yang
mendaki gunung pun diharuskan membawa perlengkapan dalam sebuah tas
ransel. Pastinya, butuh perjuangan keras untuk melakukan pendakian
dengan beban yang dipikul. Bebarapa orang mungkin melihat semua hal di
atas adalah masalah dan menghindarkan mereka dari kegiatan mendaki
gunung. Namun, menyikapi semua hal tersebut, seseorang memiliki
kesempatan untuk belajar melihat, mengamati, menganalisa, menyiasati,
mengantisipasi, mengambil keputusan, atas situasi dan kondisi yang ada.
Seseorang dilatih untuk tidak cepat berkeluh kesah dan berjuang untuk
mencapai tujuan yang lebih besar. Seseorang belajar disiplin dan
mengelola rasa malas dan lelah demi mencapai tujuan yang diinginkan.
Seseorang belajar untuk berlaku berani namun berhati hati. Contoh
latihan disiplin adalah ketika beristirahat, sangat dianjurkan seseorang
untuk mengambil jaket untuk memelihara panas tubuh yang ada. Sebab
sering kali, panas tubuh perlahan menghilang berganti dengan rasa dingin
yang menggigit. Rasa lelah sering kali membuat seseorang malas untuk
bergerak membuka tas untuk mengambil dan kemudian mengenakan jaket.
Seseorang belajar untuk disiplin mengelola rasa malas dan bergerak
meraih ransel, mengeluarkan jaket, dan mengenakannya. Sebab, dengan
mengabaikan disiplin, tujuan tak akan didapat, dan sesuatu yang tidak
diharapkan dapat terjadi. Dalam kehidupan keseharian, banyak kejadian
tidak mengenakan terjadi hanya karena kita tidak berhasil disiplin dan
mengalahkan rasa malas yang ada.
Seseorang sering kali memiliki
banyak ketakutan ataupun kekhawatiran dalam dirinya. Aktivitas mendaki
gunung memungkinkan seseorang mengalami rasa takut dan cemas akan
kondisi yang timbul di lapangan. Pengalaman mendaki memberikan
kesempatan pada seseorang untuk mengelola rasa takut dan kekhawatiran
yang timbul dengan melakukan tindakan yang diperlukan.
Mendaki
gunung biasanya melibatkan individu lain. Dalam melakukan perjalanan
mendaki, sering kali kita dihadapkan pada kondisi medan yang sulit
sementara tidak semua teman seperjalanan memiliki kemampuan yang merata.
Dalam perjalanannya, seseorang mungkin akan kedinginan, terpeleset,
jatuh, ataupun merasa lelah. Peserta pendakian masing-masing
berkesempatan memberikan bantuan, dukungan, ataupun perhatian satu sama
lain. Seseorang dilatih untuk peka akan kondisi yang ada dan karakter
suka menolong bisa terasah melalui kondisi seperti ini.
Ketika
mendaki, sesama rekan pendaki bisa berbeda pendapat dalam menentukan
jalur yang dilewati atau target yang hendak dicapai. Melalui mendaki
gunung, seseorang dilatih untuk mengenal kepribadian dan karakter
berbagai individu. Seseorang berlatih untuk mengembangkan kemampuan
interpersonal termasuk di dalamnya berlatih menyikapi setiap karakter,
kemampuan dan kecakapan yang berbeda yang dimiliki oleh masing masing
seseorang. Seseorang belajar untuk menjadi rendah hati dan mau
mendengarkan dengan penuh perhatian, mengemukakan pendapat dan
bernegosiasi, bijak terhadap kondisi sulit, tegas tapi juga memiliki
sikap toleransi sekaligus mementingkan kepentingan kebanyakan orang dan
tidak egois. Saya sendiri mempercayai, banyak dari teman-teman mendaki
gunung saya, adalah teman teman terbaik.
Pengalaman meditasi.
Lebih dalam lagi, selain menjadi kegiatan sosial, aktivitas mendaki
gunung bagi saya merupakan kegiatan meditatif. Dikatakan pengalaman
meditasi, karena pada saat saya mendaki, seperti seseorang yang sedang
bermeditasi, saya belajar untuk fokus pada apa yang sedang saya lakukan
pada saat itu saja. Saya hanya berfokus pada mengatur nafas dan
memperhatikan langkah. Saya belajar untuk tidak menghawatirkan masa lalu
maupun apa yang akan terjadi di kemudian hari. Saya belajar untuk hadir
secara sadar pada setiap detik. Suatu skill yang penting dalam
menjalani kehidupan sehari hari.
Hadir secara penuh dalam setiap detik
untuk fokus melakukan yang terbaik.
Pembentukan karakter tidak
lahir sekonyong-konyong, namun membutuhkan latihan yang panjang dan
perlu dimulai sedini mungkin. Mempercayai bahwa aktivitas mendaki gunung
adalah sarana pendidikan karakter yang alami, oleh karena itulah, saya
memutuskan untuk memperkenalkan aktivitas mendaki gunung pada anak saya
sedini mungkin. Disamping semua manfaat yang tertulis di atas, saya
merasa, melalui kegiatan naik gunung, anak saya yang kini berusia 5,5
tahun tumbuh menjadi anak yang gembira dan percaya diri.
By Bunda Nof

